Minggu, 12 Juli 2020

(Menuju) Matinya Demokrasi di Kampus ITM // LPM BURSA OBROLAN MAHASISWA ITM



“Kini kampus kembali menghadirkan kisah drama yang baru. Dualisme kepemimpinan seakan menjadi kisah yang ampuh setelah berakhirnya drama statuta kampus. Lalu mahasiswa menjadi penikmat tontonan tersebut dan acuh tak acuh. Inikah tanda ITM akan menjemput ajal demokrasinya?”

Setelah drama berkepanjangan soal statuta kampus yang akhirnya disahkan pada 26 Maret 2020, kali ini kampus Institut TeknologiMedan (ITM) kembali mengurai drama baru di dalam kampus. Pasalnya, kampus ITM telah terjadi dualisme rektor bahkan dualisme di tingkat yayasan.
Hal ini dapat dilihat ketika terbitnya dua surat edaran tentang sistem perkuliahan mandiri dari rumah dengan tertanda nama rektor yang berbeda. Kabar ini lantas membuat seluruh civitas akademika dan mahasiswa bingung sekaligus bertanya-tanya akan kondisi kampus yang semakin carut marut.
Perang panas ini pun terjadi sejak awal Februari 2020, dimana saat itu rektor lama ITM, Dr. Ir. Mahrizal Masri, M.T telah habis masa jabatan per Oktober 2019 lalu. Namun Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Dwiwarna Medan, Cemerlang, S.E menerbitkan surat keputusan (SK) per 03 Februari 2020 dan kembali mengangkat rektor lama menjadi Pejabat Sementara (Pjs) sampai rektor baru terpilih.

Kantor Yayasan Dan Kantor Rektorat Dikuasai, Mahasiswa Bermalam dan Tidur di Kedua Ruangan Tersebut

setelah berhasil membuka paksa ruang Rektor (atas) dan yayasan (bawah) mahasiswa pun menguasai nya dan bermalam dikedua ruangan tersebut.

Pasca dibuka paksa dan dikuasainya kedua ruangan baik YAYASAN maupun REKTORAT oleh mahasiswa yang mengatas namakan diri mereka dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Institut Teknologi Medan (KAM-ITM) pada hari Rabu kemarin, beberapa massa aksi akhirnya bermalam dan tidur di kedua ruangan tersebut. Kamis,(09/07)

Kamis, 25 April 2019

Politik Kampus


[OPINI]
Diskusi malam menjadi kegiatan Rutinitas di kampus , Dimana mahasiswa fokus terhadap beberapa argumentasi yang berkembang di dalam kampus

Kamis, 11 April 2019

Kampusku



Aku mulai melangka , memanjakan 
terik sinar matahari yang
menemani langkaku ,
ku tak sendiri , dengan semangat 
aku mengoleh semua yang ada , 
mulai tersenyum dan bangga

Saat melangkah 
dan tiba dalam suasana keramaian
kulihat dengan ciri khas mahasiswa teknik , semakin kokoh aku berdiri
untuk memulainya

Ia sangat menarik ,
Ia mampu menarik perhatian semua orang,ia melahirkan orang orang yang berfikiran kritis

"Perhatikan Aku Cintailah Aku "


Hampir tak semua kulihat........
Mereka tetap tersenyum tanpa aku,aku yang tergantung dilemari menanti untuk digunakan..

Siapa pemilikku? Tak satu orang yang memilikiku.... kulihat mereka memilikiku dengan kewajiban umumnya..

Namun mereka tak menggunakan kewajibannya untuk menggunakan aku... Eza Nusantara ia adalah orang yang berkewajiban memilikku alias sipemilikku , 2 tahun lalu ia sangat mencintaiku ia selalu memperhatikanku ,bukan hanya ia tapi juga teman temannya dan mereka seluru mahasiswa.

Bahagia tak pernah hilang dariku,aku sangat berarti bagi mereka dengan aku adalah simbol mereka,mereka selalu menggunakan aku dengan bangga... aku bersama mereka aku digunakan dalam setiap kegiatan kampus maupun kegiatan sosialisasi.

Sabtu, 06 April 2019

EGOISME



Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri.

Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. .

Nepotisme


Nepotisme adalah suatu kegiatan yang mengutamakan atau memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya.

Kata Nepotisme sudah tidak asing lagi terdengar di telinga masyarakat, bahkan praktiknya pun sudah kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. 
Contoh Nepotisme yang bergerak dalam bidang jasa di Indonesia, tidak mempertimbangkan keahlian-keahlian khusus dalam bidangnya, namun lebih memihak kepada sistem hubungan antara induvidu.